Kopi dan Jejak Ingatan yang Menguap bersama Waktu

 


Kopi dan jejak ingatan yang menguap bersama waktu


Membicarakan kopi, rasanya seperti membuka pintu rumah yang selalu terbuka di ujung ingatan. Bukan karena ingin tampil indie, atau menjadi juru tafsir atas filosofi hitam dalam cangkir—hanya saja, hidupku telah lama dikecup oleh aroma kopi sejak embun pertama jatuh di masa kecilku.

Aku besar di pelukan pegunungan tempat kabut turun serupa doa, di mana hamparan kebun kopi bukan sekadar lanskap, tapi juga tempat bermain masa kecilku. Pohon-pohon itu bukan sekadar tumbuhan, mereka adalah saksi bisu tawa kecilku, luka lecet di lutut, dan musim-musim yang berulang. Di sanalah aku menyaksikan simbah-simbah yang mengolah biji kopi dengan tangan penuh cerita, dari tungku yang menghembuskan wangi sangrai seperti mantra pagi, aku belajar bahwa kopi adalah bahasa sunyi yang diwariskan turun-temurun.

Kopi, bagiku, bukan sekadar cairan pekat dalam cangkir, tapi semacam ritual sakral yang menenangkan jiwa. Jika boleh sedikit berlebihan, bagiku, minum kopi serupa rukun dalam ibadah. Tanpa secangkir hitam itu, hidup seakan kurang sah dijalani.

Meski begitu, pemahamanku tentang kopi sempat sebatas hitam pekat yang ditubruk, atau paling mentok dalam bentuk sasetan. Sampai kemudian, aku ikut bapak mengelola kopi secara lebih modern. Bapakku, sosok yang tanpa banyak kata, namun menyelipkan hikmah dalam tiap seruputannya. Ia memperkenalkanku pada dunia kopi dari akar hingga uap terakhir dalam cangkir—memetik buah merah ranum, menjemurnya di bawah matahari, mengolahnya dengan tangan sendiri, merasai manis-pahit yang tak hanya milik biji kopi, tapi juga hidup itu sendiri.

Hingga kemudian, Jogja menyambutku dengan pelukannya yang hangat dan bising. Kota ini seperti lanskap dari ratusan cerita yang larut dalam aroma kopi. Di setiap tikungan jalannya, ada kedai berdiri seperti altar kecil tempat manusia menyembuhkan luka. Satu per satu aku datangi—dari yang ramah di kantong hingga yang membuat dompet menjerit. Kopinya beragam: dari manual brew, filter, hingga racikan dengan sirup buah dan krim. Di sana, kopi dinikmati dalam iringan tawa, tugas kuliah, kerjaan yang menumpuk, atau obrolan tentang cinta yang kandas dan penyesalan yang belum tuntas.

Tapi dari semua perjalanan dan racikan, aku selalu kembali pada satu hal yang tak tergantikan: ngopi di rumah, bersama bapak. Di meja tua yang sudah tak rata kakinya, kami duduk berdua. Tak butuh banyak kata, hanya kopi yang mengepul, dan dunia yang kami bicarakan dalam jeda-jeda diam. Di sana, waktu terasa melambat. Dan dari sana, aku tahu: sesungguhnya, pulang adalah ketika kita menemukan kembali rasa yang tak pernah berubah.


biwara nala seta

21 desember 2024

Posting Komentar

1 Komentar

adexpariblogspot mengatakan…
Keren Nak. Pilihan diksinya sudah bagus. Alurnya juga sudah runtut dan mengalir. Enak dibaca dan dicerna. Teruslah berkarya, asah terus kemampuan menulismu, insyaallah ke depan makin keren dan berkualitas