Mereka Lebih Lelah, Tapi Tak
Seberisik Kita
—-
Beberapa waktu lalu, aku
berbagi keluhan dengan seorang teman. Anak kuliah yang nekat ambil part-time
jadi kurir antar-jemput makanan—anak-anak kontrakan sering memanggilnya
Brandon. Menariknya, keluhan kali ini bukan tentang cinta atau asmara—topik
yang akhir-akhir ini justru terasa membosankan di telingaku.
Keluhan itu bermula dari
keresahannya soal harga kopi yang semakin menguras dompet. Dari sana, obrolan
melebar ke topik yang jauh lebih besar: betapa susahnya mencari uang sebagai
seorang kurir antar-jemput makanan.
Setiap hari ia berhadapan
dengan matahari Jogja yang rasanya seperti menggantung hanya 10 cm di atas
kepala. Ia sering mengeluh sambil tertawa getir, katanya, “Jogja pas
siang-siang itu rasanya kayak ada pintu neraka yang bocor, puanas gilak”
Selain cuaca, jalanan pun tak
kalah menyebalkan. Emak-emak yang merasa jadi raja jalanan, pemuda ngawur yang
suka nerobos lampu merah, kendaraan yang nyangkut di jalan sempit—semuanya
membuat kepalanya nyaris meledak. Belum lagi soal teknis: harga BBM yang naik
tanpa aba-aba, dan customer absurd yang entah kenapa bisa-bisanya kasih bintang
satu tanpa alasan.
Meski begitu, ia tetap
bersyukur. Setidaknya dari pekerjaan itu, ia bisa beli kopi pakai uang sendiri,
tanpa harus minta uang saku dari ibunya lagi.
Setelah ngobrol cukup panjang,
kami mulai bertanya-tanya: apakah pekerjaan seberat ini cukup untuk menghidupi
satu keluarga? Lalu bagaimana dengan mereka yang memang menggantungkan hidup
dari jalanan setiap hari? Bagaimana caranya mereka mengatur uang agar cukup
untuk beli nasi, bayar listrik, dan menyekolahkan anak?
Kami pelan-pelan menyadari,
bahwa di luar keluhan ringan kami, ada kenyataan yang jauh lebih dalam: banyak
orang yang hidupnya bergantung pada pekerjaan seperti ini. Mereka bangun saat
fajar, menembus dingin dan hujan, hanya agar dapur tetap mengepul. Tak ada
asuransi kesehatan, tak ada jaminan pensiun, tak ada ruang untuk sakit. Mereka
menahan lapar demi biaya sekolah anak, menunda lelah demi tagihan yang terus
datang. Di saat sebagian dari kita sibuk mengejar kenyamanan, mereka berjuang
untuk bertahan. Dan di tengah semua itu, mereka tetap pulang dengan senyum
untuk keluarganya—seakan-akan lelahnya bukan beban, melainkan bagian dari
cinta.
Kami pelan-pelan menaruh rasa
hormat pada mereka. Sebab barangkali, mereka bukan cuma tulang punggung
keluarga—mereka adalah tiang dunia yang tak terlihat, yang menopang hidup
banyak orang tanpa pernah diminta untuk dikenang. Mereka layaknya superhero tanpa
jubah yang tidak punya waktu untuk tampil gagah. Karena bagi mereka, satu
pekerjaan yang selesai, satu anak yang bisa makan, sudah lebih dari cukup.
Dari situ, aku sadar: kita ini
sering terlalu bising untuk lelah yang tak seberapa. Capek ngerjain tugas
akhir, kerja sedikit misuh-misuh, lalu ngeluh di story, bikin thread panjang,
atau sekadar mengeluh sambil ngopi enak di kafe ber-AC. Kerja dua jam, kopi
tiga kali, sudah merasa dunia sedang menghukum. Kita bilang: capek. Padahal
lelah kita sering hanya sekadar gaya hidup. Sebentuk tren yang dibalut
estetika, lalu dibagikan demi validasi yang datang dari likes dan komentar
manis.
Padahal di luar sana, banyak
yang jauh lebih lelah—hanya mereka tak seberisik kita. Bukan karena mereka tak
punya suara, tapi karena mereka terlalu sibuk bertahan hidup.
Kita memang tidak benar-benar
selelah itu… atau seberisik itu.
Dan ternyata, yang paling
berjuang tak sempat menjelaskan. Yang paling letih tak pernah terdengar. Yang
paling tulus justru tak punya panggung.
Karena hidup mereka, terlalu
nyata untuk disandarkan pada empati orang-orang yang terlalu sibuk merasa
paling lelah.
Ah.. sepertinya kita aja yang
terlalu puitis dan melebih-lebihkan.
biwaranalas_
6 Mei 2025

0 Komentar