Hidup dan Bangun untuk Mati

 


Hidup dan Bangun untuk Mati.

 

Semakin bertambah usia, kita mulai sadar: tidak semua mimpi masa kecil bisa tumbuh dewasa bersama kita. Beberapa hilang pelan-pelan, tergerus kenyataan. Lalu harapan hidup pun menyusut—dari ingin menaklukkan dunia menjadi cukup bisa bangun pagi tanpa sesak di dada.

Kita masih sering khilaf. Melirik hidup orang lain, lalu merasa hidup sendiri begitu lambat dan kecil. Kadang silau, kadang iri. Padahal kita tahu, jadi hebat tak selalu berarti bersinar. Ada yang diam-diam kuat, diam-diam bertahan.

Bertahan dalam diam adalah seni yang tak terlihat—tapi di sanalah letak kekuatan yang paling sunyi. Kadang kita lupa, punya semangat untuk tetap hidup setelah bangun tidur pun—itu sudah termasuk pencapaian.

Sering kali kita berjalan dengan luka yang tak tampak, menahan gemuruh di dada serapat mungkin—agar dunia tak mendengarnya pecah.

Terlalu sering kita membandingkan diri dengan orang lain, lupa bahwa hidup bukan perlombaan. Setiap orang punya rezeki, punya jalan, dan waktu tumbuhnya masing-masing.

Tak perlu iri pada yang sedang bersinar. Biarkan mereka jadi matahari. Kita lupa, semesta ini terlalu luas untuk hanya dihuni cahaya. Bahkan setetes air pun punya tempat di antara rasi bintang—dan itu cukup.

Jadi, tetaplah jadi apa pun yang kita mau, selama itu baik dan tak melukai siapa-siapa.

Sebab menjadi diri sendiri juga tak mudah, apalagi di dunia yang sibuk menilai siapa paling berhasil dan siapa paling terlihat.

Dan tak apa jika kita bukan kilau yang memukau—asal kita tetap nyala yang setia menemani langkah kita sendiri.

Dan ingat, masih mau berusaha untuk hari esok juga bentuk keberanian yang layak dihargai. Tidak semua orang bisa bertahan di fase ini—apalagi di tengah dunia yang manusia-manusianya mulai kehilangan arah, kehilangan iman, kehilangan kasih.

Jadi, kalau capek, istirahat. Kalau lapar, makan.

Kita tidak harus selalu kuat. Kadang, cukup selamat hari ini pun sudah luar biasa. Karena hidup bukan soal siapa paling bersinar, tapi siapa yang tetap bangun meski alarm-nya dimatikan tujuh kali.

 

biwaranalas_

13 Mei 2025

Posting Komentar

0 Komentar