Antara “Miaw” dan Doa dalam Diam
Kita semua, cepat atau lambat,
akan pulang. Entah esok atau entah kapan, tubuh ini akan berhenti mengejar
dunia, dan yang pernah kita perjuangkan—orang-orang yang kita cintai, harta
yang kita kumpulkan, nama yang kita ukir di papan karier—semuanya akan
tertinggal, seperti pakaian yang tak lagi muat dikenakan.
Ikhlas atau tidak, kita akan
melepaskannya. Orang tua, kekasih, jabatan, mimpi-mimpi yang dulu terasa
mutlak. Semua akan jadi reruntuhan sunyi yang ditinggal pergi pemiliknya.
Kadang, di tengah malam yang
terlalu senyap, aku bertanya-tanya,
“Bagaimana wajah dunia setelah
aku tak ada?”
“Siapa yang duduk di kursi
tempatku biasa menatap hari?”
“Apakah namaku masih disebut,
atau hanya jadi debu di antara obrolan lalu?”
Pertanyaan-pertanyaan ini
mungkin tampak besar—dan manusiawi. Tapi yang lebih sering mengusik, justru
hal-hal yang katanya ‘remeh.’
Pernahkah kau memikirkan nasib
kucing-kucing setelah kita tiada? —Yang tiap sore menunggu suara langkah kita
di teras, yang duduk diam di bawah meja seperti tahu kapan hati kita runtuh, yang
tak tahu apa itu duka, tapi bisa mengeong dengan tepat saat kita butuh suara
lain selain pikiran sendiri.
Bayangkan, suatu hari nanti,
kita tak kembali. Pintu tak lagi terbuka, suara kita lenyap dari halaman. Apakah
mereka akan tetap menunggu, menyisakan jejak-jejak kecil di ubin dingin yang
tak lagi dijamah kaki kita?
Apakah mereka akan mengendus
udara, mencari sisa wangi tubuh yang pernah menyuapi mereka dengan kasih yang
tak diucapkan?
Apakah dalam ‘miaw’
mereka—yang tak kita mengerti—mungkinkah terselip pertanyaan:
“Kemana dia yang dulu
memberiku nama dan sesekali memaki saat aku buang air sembarangan?”
Mungkinkah kucing-kucing rindu
pada amarah kita yang bahkan tak sepenuhnya benci? Dan kalau suatu hari kita
diminta mempertanggungjawabkan cinta, maukah mereka jadi saksi kecil bahwa kita
pernah peduli?
Ah, kurasa pertanyaan terakhir
sudah melampaui logika dan kehendak-Nya. Itu urusan Tuhan—dan aku yakin, jika
belas kasih adalah salah satu wajah-Nya, kucing-kucing itu akan punya tempat.
Lagi pula surga tak akan lengkap tanpa dengkuran manjanya, bukan?
Bagiku, kehadiran mereka
adalah hadiah. Cinta Tuhan yang dibungkus bulu dan ekor, dengan mata yang
bersinar seperti doa yang diam. Mereka tidak menghakimi, tidak menuntut banyak,
hanya hadir—dan itu cukup untuk membuat kita merasa berarti.
Menyukai atau tidak menyukai
kucing, oke-itu soal selera. Tapi menyakiti mereka? Kurasa itu bukan pilihan
yang terlihat baik di mata-Nya. Karena siapa tahu, di akhirat nanti, suara
pertama yang menyambut kita adalah “miaw” yang kemudian mengantar kita sampai pintu
surga-Nya, “miaw” yang masih sama dengan “miaw” pernah kita abaikan… atau cintai dalam diam.
/
YAAA NGGAK, CINGGGGGGG?
biwara nala seta
20 februari 2025

0 Komentar