Enak ya, hidup di masa kecil!?


 

Enak ya, hidup di masa kecil!?

 -

Beberapa peristiwa terakhir berserakan tanpa aba-aba;
jam tidur yang berantakan, keuangan yang mulai kekurangan, hingga kualitas iman yang semakin tak karuan.

Segala sesuatu terasa rumit. Pinggang serasa dipanggang, kaki semakin loyo —entah tenagaku yang semakin jompo, atau tujuanku yang memang terlalu “ndakik”.

Padahal rasanya baru kemarin, aku menolak buku bergambar beruang kartun, merengek meminta sampul bertuliskan "Campus Boys" hanya supaya terlihat dewasa, padahal buang ingus saja masih belepotan.

Waktu itu, lelahku disebabkan karena berlari di antara semak petak umpet; kini, aku kelelahan menapaki hidup yang jalannya semakin berpetak-petak.

"Namanya juga hidup, nanti juga terbiasa." kata itu kini terdengar klise, seperti kaset usang yang terus diputar, tapi mau tak mau, banyak hal yang memang harus dibiasakan.

Pada akhirnya, semua harus dijalani —meski iman sering gemetar, maklum saja, sibuk mencari cara bertahan sampai lupa bagaimana caranya berserah.

Kadang-kadang, aku bertanya dalam hati: sejak kapan semua ini terasa seberat ini? Sejak kapan tertawa harus dicuri-curi di sela resah, dan bahagia harus dibeli dengan harga letih?

Ada hari-hari di mana aku ingin bersembunyi — di balik meja, di bawah selimut, atau di lipatan-lipatan doa masa kecil yang dulu begitu sederhana:
hanya meminta setiap hari ditayangkan serial power ranger di televisi, bukan memohon kekuatan untuk tidak menyerah.

Aku rindu menjadi bocah yang percaya bahwa dunia selalu baik-baik saja, bahwa luka bisa sembuh dengan permen dan pelukan. Tapi kini, bahkan untuk menangis pun, kadang-kadang harus disimpan rapat agar tidak dianggap lemah.

Aku tahu, hidup memang bukan tentang siapa yang paling kuat, melainkan siapa yang tetap berjalan, walau tertatih dan berlumuran peluh.

Maka hari ini, di antara runtuhan letih dan guguran doa yang patah-patah, aku berjanji pada diriku sendiri: tak apa berjalan perlahan, tak apa sesekali kehilangan arah, asal jangan menyerah.

Semoga di hari-hari ke depan, Tuhan membentangkan langit baru untukku — langit yang lebih lapang, lebih teduh, dan lebih sabar menunggu aku tumbuh.

Enak ya, hidup di masa kecil!?

 

biwara nala seta

10 April 2025

Posting Komentar

0 Komentar