Jadi Petani juga Soal Keikhlasan?

 


Jadi Petani juga Soal Keikhlasan?

 

Hari itu aku sedikit ngobrol dengan seorang bapak-bapak paruh baya yang berprofesi sebagai seorang petani, berawal dari basa-basi menanyakan sayur apa yang sedang musim, kami pun tenggelam dalam sebuah perbincangan.

“Rokok mas? Tapi anane kretek kie” Tawarnya sambil mengeluarkan sebungkus lusuh dari saku bajunya.

“Mboten pak, sampun mboten ngerokok” Tolakku halus

Bapak itu menyalakan rokoknya. Asap pertama yang diembuskan seperti membuka gerbang keluh kesah. Ia mulai bercerita tentang kerasnya hidup sebagai petani: mahalnya harga bibit dan obat-obatan tanaman, cuaca yang tak menentu, dan para tengkulak yang suka semena-mena menentukan harga.

Orang-orang atas itu apa ngga pernah serius memikirkan nasib rakyat kecil seperti kita ya mas? Katanya negara ini pengen jadi lumbung pangan, apanya yang lumbung pangan, harga bibit dan obat sekarang mahal-mahal mas, itu baru harga bibit dan obatnya mas, belum lagi tengkulak yang kadang suka nggak masuk akal ngasih harga, sekarang cuaca juga susah diprediksi, banyak mas yang udah ngeluarin modal tapi gagal panen, ngga balik modal blass.”

Diam-diam aku mengangguk. Perasaannya bukan keluhan semata, tapi jeritan yang tertahan oleh kenyataan.

“Tapi kalo saya sendiri sih masih bersyukur mas, yaa selama masih bisa bikin asap di dapur sama masih bisa beli kretek, harusnya masih aman mas”

Bapak itu mengabiskan kreteknya dengan rasa syukur, walaupun aku yakin ada rasa getir yang ikut terbakar bersamanya.

“Masnya ga pengen jadi petani mas?” Tanyanya tiba-tiba.

“Waduh, Pak… Saya ngga punya lahan” Jawabku

“Yah sekarang susah memang mas, lahan-lahan juga sudah banyak yang digoreng makelar, harganya naik gila-gilaan. Giliran ada orang yang punya lahan, anaknya ngga mau ngolah lahannya. Itu emang kenapa ya mas sekarang kok anak muda banyak yang ngga mau jadi petani?” Bapak itu memaksaku untuk ikut berpikir, dan akhirnya bicara.

“Itu lah pak, anak sekarang banyak yang gengsi pak, kena panas dikit takut hitam kulitnya, kena tanah dikit takut gatal, macem-macem pak alasannya. Tapi ga sedikit juga yang sebenernya pengen jadi petani pak, cuma ya seperti yang bapak tadi bicarakan, di negara kita petani ngga ada ajinya pak, beda sama di Jepang pak, di sana petani benar-benar dihargai sama negara. Fasilitas lengkap, harga kebutuhan pertanian terjangkau, anak mudanya pun diberi ruang buat berinovasi.” Ceritaku membandingkan nasib petani di sini dan di Jepang.

Bapak itu menarik napas panjang, lalu bertanya lirih, “Kira-kira kapan ya, mas, negara kita bisa maju?”

Belum sempat aku menjawab pertanyaannya, tiba-tiba adzan maghrib berkumandang dari kejauhan. Suaranya merambat pelan, mengisi senyap antara kami.

Padahal aku ingin menjawab, ingin sekali kutunjukkan daftar korupsi terbaru dari negara ini—yang bahkan urutan teratasnya jumlah nol-nya hampir capai 15. Walaupun sepertinya bapak itu juga tidak akan kaget mendengar berita ini. Lagian sejak dulu negara ini juga lebih sering mengirimkan berita buruk, kan?

Kami tak melanjutkan percakapan. Tak perlu. Dalam diam, ada kesepahaman. Bahwa di negeri ini, menjadi petani bukan soal bercocok tanam—tapi soal bertahan. Soal tetap percaya pada tanah yang seringkali tak lagi ramah, dan pada negara yang entah peduli atau hanya pura-pura tuli.

Bapak itu berpamitan hendak ke mushola. Aku mengangguk sambil tersenyum.

Tak lama, bapak itu menghilang di sebuah tikungan. Tapi pertanyaannya terus terngiang:

“Kapan ya, mas, negara kita bisa maju?”

Dan mungkin, pertanyaan itu akan terus tinggal di benak banyak orang, menunggu dijawab oleh generasi yang belum lelah berharap.


biwara nala seta

25 april 2025

Posting Komentar

0 Komentar