Mobil Merah dan Mimpi yang Perlahan Kita Kubur

 


Mobil Merah dan Mimpi yang Perlahan Kita Kubur

Waktu masih kanak-kanak, sebagian dari kita pernah terpukau oleh kilau kendaraan mahal yang melintas di layar televisi atau game—mobil merah menyala, dengan pintu yang terangkat miring ke langit, seolah-olah siap terbang membawa kita ke segala tempat impian.

Lalu, dengan mata yang penuh cahaya dan hati yang belum mengenal kecewa,
kita ceritakan mimpi itu ke teman-teman di sekolah:

Kalau udah gede nanti, aku mau punya mobil Ferrari merah! Rumahku lantai dua, atapnya jadi landasan helikopter!”

Ah, betapa ringan hidup waktu itu—beban paling berat hanyalah PR Matematika dan kewajiban tidur siang.

Namun semakin hari kita tumbuh, bukan semakin dekat dengan mimpi itu, melainkan semakin sadar bahwa mimpi tak selalu tumbuh bersama usia. Kadang, mimpi justru jadi bunga kering yang kita simpan di buku harian—tak layu, tapi juga tak pernah mekar kembali.

Dan itu tak salah. Manusia memang ditakdirkan untuk terus bermimpi, tapi juga ditampar oleh kenyataan bahwa tidak semua bisa digenggam.

“Kayaknya, cukup deh… punya pekerjaan tetap, rumah kecil tapi nyaman, keluarga yang saling mencintai, dan bisa bermanfaat buat sekitar.”

Mimpi itu terdengar sederhana—tapi siapa yang bisa menjamin mimpi itu tidak ikut kandas di tengah tagihan listrik dan cicilan bulanan?

Karena pada akhirnya, kita hanyalah manusia yang belajar merawat harap dengan logika, yang melipat mimpi besar menjadi origami kecil agar muat disimpan di saku kenyataan. Kita berusaha, berdoa, dengan sesekali mengutuki oknum pejabat yang melaju di mobil mewah, hasil dari memeras peluh rakyat yang tak sempat bermimpi.

Ah, sial. Hidup kalau ngga lucu ya lucu banget atau kadang hanya membuat kita ingin tertawa getir.

 

biwara nala seta

22 april 2025

Posting Komentar

0 Komentar