Hidup dan Bangun untuk Mati.—Semakin bertambah usia, kita mulai sadar: tidak semua mimpi masa kecil bisa tumbuh dewasa bersama kita. Beberapa hilang pelan-pelan, tergerus kenyataan. Lalu harapan hidup pun menyusut—dari ingin menaklukkan dunia menjadi cukup bisa bangun pagi tanpa sesak di dada.Kita masih sering khilaf. Melirik hidup orang lain, lalu merasa hidup sendiri begitu lambat dan kecil. Kadang silau, kadang iri. Padahal kita tahu, jadi hebat tak selalu berarti bersina…
Selengkapnya »Mereka Lebih Lelah, Tapi Tak Seberisik Kita—-Beberapa waktu lalu, aku berbagi keluhan dengan seorang teman. Anak kuliah yang nekat ambil part-time jadi kurir antar-jemput makanan—anak-anak kontrakan sering memanggilnya Brandon. Menariknya, keluhan kali ini bukan tentang cinta atau asmara—topik yang akhir-akhir ini justru terasa membosankan di telingaku.Keluhan itu bermula dari keresahannya soal harga kopi yang semakin menguras dompet. Dari sana, obrolan melebar ke topik yang…
Selengkapnya »Jadi Petani juga Soal Keikhlasan?Hari itu aku sedikit ngobrol dengan seorang bapak-bapak paruh baya yang berprofesi sebagai seorang petani, berawal dari basa-basi menanyakan sayur apa yang sedang musim, kami pun tenggelam dalam sebuah perbincangan.“Rokok mas? Tapi anane kretek kie” Tawarnya sambil mengeluarkan sebungkus lusuh dari saku bajunya.“Mboten pak, sampun mboten ngerokok” Tolakku halusBapak itu menyalakan rokoknya. Asap pertama yang diembuskan seperti membuka gerbang…
Selengkapnya »Kopi dan jejak ingatan yang
menguap bersama waktu
Membicarakan kopi, rasanya
seperti membuka pintu rumah yang selalu terbuka di ujung ingatan. Bukan karena
ingin tampil indie, atau menjadi juru tafsir atas filosofi hitam dalam
cangkir—hanya saja, hidupku telah lama dikecup oleh aroma kopi sejak embun pertama
jatuh di masa kecilku.Aku besar di pelukan
pegunungan tempat kabut turun serupa doa, di mana hamparan kebun kopi bukan
sekadar lanskap, tapi juga tempat bermain masa keci…
Mobil Merah dan
Mimpi yang Perlahan Kita KuburWaktu masih
kanak-kanak, sebagian dari kita pernah terpukau oleh kilau kendaraan mahal yang
melintas di layar televisi atau game—mobil merah menyala, dengan pintu yang
terangkat miring ke langit, seolah-olah siap terbang membawa kita ke segala
tempat impian.Lalu, dengan mata
yang penuh cahaya dan hati yang belum mengenal kecewa,
kita ceritakan mimpi itu ke teman-teman di sekolah:“Kalau udah gede
nanti, aku mau punya mobil Ferrari…
Enak ya, hidup di masa kecil!? -Beberapa peristiwa
terakhir berserakan tanpa aba-aba;
jam tidur yang berantakan, keuangan yang mulai kekurangan, hingga kualitas iman
yang semakin tak karuan.Segala sesuatu
terasa rumit. Pinggang serasa dipanggang, kaki semakin loyo —entah tenagaku
yang semakin jompo, atau tujuanku yang memang terlalu “ndakik”.Padahal rasanya baru
kemarin, aku menolak buku bergambar beruang kartun, merengek meminta sampul
bertuliskan "Campus Boys" ha…
Antara “Miaw” dan Doa dalam Diam
Kita semua, cepat atau lambat,
akan pulang. Entah esok atau entah kapan, tubuh ini akan berhenti mengejar
dunia, dan yang pernah kita perjuangkan—orang-orang yang kita cintai, harta
yang kita kumpulkan, nama yang kita ukir di papan karier—semuanya akan
tertinggal, seperti pakaian yang tak lagi muat dikenakan.Ikhlas atau tidak, kita akan
melepaskannya. Orang tua, kekasih, jabatan, mimpi-mimpi yang dulu terasa
mutlak. Semua akan jadi reruntuhan …
Berdamai dengan “Patah dan Runtuh”Jika kamu mengira ini adalah tulisan tentang tips dan trik agar bisa berdamai dengan perasaan Patah dan Runtuh, mungkin kamu salah mengunjungi tulisanku. Kamu telah tersesat, tapi tenang, walaupun tidak akan ada tips dan trik cara berdamai dengan patah dan runtuh, kamu tidak akan rugi jika kamu terus membaca tulisanku ini.Sebelumnya, selamat kamu telah tersesat di jalan yang benar. Sebab dari tulisanku ini akan sedikit ku sampaikan perihal B…
Selengkapnya »Berkenalan dengan PuisiBagaimana awal aku berkenalan dengan puisi? Jadi gini, dibanding berkenalan mungkin jauh lebih tepat disebut dengan dikenalkan, hal ini terjadi ketika aku masih anak-anak, waktu itu aku masih menjadi siswa SD kelas 3 yang hanya mengenal bermain dan belajar. Siklus kehidupannya hampir sama, pagi belajar di sekolah, siang bermain, malam bermain sambil belajar bareng ibu.Awal aku menemukan puisi saat malam belajar didampingi ibu, aku menemukan sebuah pui…
Selengkapnya »